Jadilah Milikku, Mau?

January 16, 2012

Hari Kelima #15HariNgeblogFF

345 words

Ruangan ini putih dengan bebauan khas yang selalu menyelubungi. Aku terduduk di salah satu dari dua kursi yang ada disini. Di hadapanku seorang pria berkacamata berada. Dia terdiam sejenak, menatapku, lalu kepalanya tertunduk memandangi lembaran-lembaran putih bergores yang terurai di meja di hadapannya.

Pria itu menatapiku lagi sebelum bertanya, “Anda yakin?”

Aku tidak menanggapi dalam seketika. Butuh lima detik bagiku untuk menyatukan keyakinan yang sempat tercecer untuk beberapa saat tadi.

Aku tersenyum. Lalu mengangguk dengan hati penuh.

Pria itu masih memandangiku ketika satu pertanyaan disuarakannya lagi, “Kau gadis pemberani. Ah, bukan, terlalu pemberani,” ralatnya. Dia bergerak pelan di kursinya lalu melanjutkan, “Apa yang membuatmu begitu yakin?”

Aku terdiam lagi, berpikir. Benar juga, apa alasanku? Karena aku mencintainya? Itu benar, aku memang mencintai Dan. Tapi rasanya itu bukan sebuah alasan untuk ini.

“Aku punya alasanku sendiri,” kataku pada akhirnya, ketika berdetik-detik telah berlalu sedangkan aku belum menemukan alasan untuk dijadikan jawaban.

Pria itu mengangguk-angguk. Diraihnya pena lalu tangannya bergerak, menambah goresan yang ada pada lembar-lembar putih tadi. Dia tersenyum padaku dengan sorot hangat.

“Kau gadis hebat, sungguh,” ujarnya sambil menyerahkan lembaran putih.

Aku membalas sorotnya tak kalah hangat. Sehangat hatiku yang membuncah-buncah tak terkendali.

“Terima kasih,” ucapku sungguh-sungguh.

Lalu aku beranjak, melangkah dan membuka celah yang menghubungkan ruang ini dengan lainnya. Senyumku tidak juga lenyap, bahkan semakin merekah. Aku membayangkan senyum serupa yang akan terulas di wajah Dan setelah ini.

Pintu yang kulewati belum tertutup sempurna ketika Dan menghampiriku tergopoh. Raut wajahnya terkombinasi antara cemas dan penuh pengharapan.

Tangannya meraih lenganku, matanya membulat sempurna dan aku bisa mendengar nafasnya yang tertahan ketika ia bertanya, “Bagaimana?”

Aku tidak menjawab, hanya mengulurkan lembaran putih di tanganku sebagai reaksi.

Kini lembaran itu telah berpindah ke tangannya. Dan membacanya dan seketika sinar matanya cerah. Tatapannya beralih, mencari kepastian di mataku.

Aku tidak terlalu yakin, tapi kurasa aku melihat setitik air mata di pelupuk matanya.

“Akhirnya kau menjadi milikku,” Dan berucap sambil mengecup kedua mataku.

Ketika esoknya aku tersadar dalam keadaan terbaring dan tidak lagi menemukan cahaya, aku tahu gadis itu—gadisnya Dan—telah memilikiku.

Semoga kau nyaman bersama pemilik barumu, jendela duniaku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: