A Casual Causality

March 14, 2014

0

Sial, sial, Kyungsoo menyumpah dalam hati. Sial pertama adalah karena seharusnya ia tidak mengatakannya (ia memang tidak sengaja mengatakannya) dan sial kedua adalah karena kepada siapa ia mengatakannya.

Pemuda di sampingnya. Byun Baekhyun.

Kalau saja ini bukan Baekhyun, mungkin keadaannya tidak jadi serumit saat ini. Baekhyun memang tidak sepintar Luhan (dalam segi akademis) atau Minseok, tapi kemampuannya dalam membaca dan menyimpulkan situasi sangat bisa dipertimbangkan.

“Kyungsoo!” kala itu Baekhyun berkata seraya melempar botol minuman kepada lawan bicaranya. Ia kemudian duduk, meluruskan kakinya dan meneguk isi botol minuman dengan cekatan. Ada beberapa saat hening tanpa bising hingga Baekhyun kembali memutuskan bersuara. “Kyungsoo”—ia menyisir situasi dengan teliti sambil bergerak mendekati Kyungsoo—“mengenai pelatih vokal kita yang baru, apa pendapatmu?”

Kyungsoo mengangkat kepalanya, menatap Baekhyun selama satu detik lalu beralih menatap entah-apa. “Dia oke,” kata Kyungsoo pada akhirnya.

Baekhyun mengangguk-angguk. Jawaban yang mudah diduga. Amat tipikal Kyungsoo.

“Tapi,” Kyungsoo menjeda kalimatnya untuk satu tegukan air, “aku lebih menyukai Park songsaengnim, entah kenapa.”

Baekhyun menjentikkan jarinya dengan penuh semangat, wajahnya menampilkan ekspresi yang tak kalah semangat. “Akhirnya aku punya pendukung! Kau tahu, aku berbicara pada Luhan hyung, tapi ia malah memberiku wanti-wanti seperti orang bijak yang ada di televisi”—jeda sesaat ketika Baekhyun berdeham—“’Tidak baik membanding-bandingkan orang, Baekhyun. Setiap orang itu berbeda.’” Ia mengimitasi cara Luhan berbicara dengan sedikit hiperbola. “Tapi ternyata aku bukan satu-satunya. Wah, kau benar-benar temanku!” Nada bicaranya amat bangga dan, tentu saja, penuh semangat.

Kyungsoo tertawa kecil (dia tidak menertawakan sikap Baekhyun, sungguh). “Kau masih punya satu pendukung lain.”

“Benarkah? Siapa?”

“Jongin.”

“Kim Jongin? Kai?” Ada nada tidak biasa disana.

“Memangnya ada berapa orang bernama Jongin yang kaukenal, Baekhyun? Sepuluh?” sebuah pertanyaan main-main.

“Oh, bukan begitu. Aku hanya baru tahu kalau Jongin ternyata cukup peduli dengan pelajaran vokal.”

Kyungsoo terkekeh. “Jongin tidak akan peduli seandainya dia tidak ingin mengambil waktu belajar privat.”

Satu detik, dua detik.

Ups.

Mati kau, Kyungsoo. Matilah.

Apa kau bisa menerka adegan selanjutnya? Bisa? Tepat, ini adalah masa ketika Kyungsoo berharap isi kepala Baekhyun bisa ditukar sementara dengan milik Tao dan mantra obliviate bisa diaplikasikan di dunia nyata.

Empat detik setelah ia mengucapkan kata-kata terlarang itu, Kyungsoo menolehkan kepalanya ke sebelah kiri hanya untuk mendapati Baekhyun menatapnya penuh selidik.

Tenang, Kyungsoo. Rileks. Jangan mengerjapkan mata terlalu cepat, jangan tersenyum, jangan tertawa, jangan menunjukkan ekspresi ganjil.

“Apa?” Lelaki dengan mata sepenuh purnama itu akhirnya bersuara. “Kenapa menatapku seperti itu?”

Kyungsoo berharap ekspresi Baekhyun akan melunak, berharap pemuda itu bisa mengikuti alur yang dibuatnya, tapi harapannya ternyata tidak sejalan dengan apa yang Tuhan inginkan.

“Kau bilang, Jongin mengambil waktu belajar vokal privat? Pada Park songsaengnim?”

Kyungsoo menunjukkan ekspresi (pura-pura) berpikir, lalu melanjutkannya dengan ekspresi (pura-pura) terkejut dan (seolah-olah) tertawa geli. “Kau benar-benar berpikir Jongin melakukannya? Maksudku, Kim Jongin yang lebih memilih berlatih menari enam jam dibanding berlatih vokal selama satu jam?”—Kyungsoo tertawa sekali lagi—“Kau pasti bercanda!”

Baekhyun tertawa, bukan karena apa yang dikatakan Kyungsoo lucu, tapi karena ia tidak punya ide untuk melakukan hal lain selain tertawa. Dan beruntunglah Baekhyun, karena saat itu pintu terbuka dan pelatih vokal teranyar mereka memasuki ruangan. Saved by the bell, Baekhyun pernah membacanya di sebuah buku.

Baekhyun dan Kyungsoo kemudian berdiri, meletakkan botol minuman masing-masing di sudut ruangan, dan menghampiri si pelatih untuk menyelesaikan kewajiban mereka yang tersisa satu jam.

Satu jam yang Baekhyun taksir akan terasa lebih lama dari seharusnya, karena kesabarannya yang terkikis makin tipis untuk segera menghampiri Chanyeol dan Sehun (semoga keduanya belum tertidur) dan menceritakan semuanya. Sebaliknya, Kyungsoo berharap waktu latihan bisa dilipatgandakan hingga tiga jam, sehingga semua member lain sudah tertidur ketika mereka kembali ke asrama, jadi Baekhyun akan langsung tidur dan ia harap ingatan Baekhyun mengenai hal tadi lenyap dibawa mimpi.

Tapi kemudian Kyungsoo tahu bahwa hari ini benar-benar bukan miliknya ketika detik berikutnya pelatih vokal mereka berkata dengan keanggunan seperti milik para Dewi Yunani.

“Berita baik untuk kalian, waktu latihan hari ini akan dipersingkat 30 menit.”

Oh, ya ampun.

Dimana Kyungsoo bisa mendapatkan peti mati saat ini?

9.40 PM

Sepuluh menit yang lalu kelas berakhir, dan sesaat setelah si pelatih baru menghilang dari balik pintu, Baekhyun berlari menuju kamarnya  seolah tidak ada hari esok. Lelaki itu hanya butuh waktu lima menit untuk mencapai kamar setelah memanggil Sehun dan Chanyeol untuk bergabung.

Jika kau berpikir bahwa menggosip hanya dilakukan para perempuan, maka opinimu harus ditinjau ulang.

“Kau yakin tidak salah dengar?” Chanyeol memulai percakapan setelah tidak ada suara selama beberapa saat sebelumnya. “Kau benar-benar yakin?”

Ck, Baekhyun mendecak tidak sabar. “Pertanyaannya sekarang bukan apakah-aku-yakin, tapi ada-apa-dengan-Jongin,” tandasnya.

Hening kembali untuk kedua kali.

“Oh!” Kali ini Sehun yang berbicara. “Jongin pernah bilang padaku kalau ia iri dengan Jongdae, tapi saat itu kupikir Jongin hanya bercanda.”

Jongin iri pada Jongdae? Baekhyun mulai mengira-ngira apakah ia akan menemukan berita Sahara bersalju di televisi.

“Kita dapat satu kesimpulan, Jongin ingin bisa menyanyi.”

Baekhyun melirik Chanyeol seolah lelaki itu baru tahu bahwa anjing adalah binatang mamalia. “Perlu kuulangi apa yang jadi pertanyaannya disini, Park Chanyeol?”

Chanyeol menatap balik Baekhyun dan menampilkan deretan gigi depan miliknya yang sempurna.

“Apa menurut kalian mungkin bahwa perusahaan sedang melakukan sebuah… inovasi?” nada bicara Sehun terdengar tak yakin.

“Jika memang ya, lantas kenapa ini begitu disembunyikan?”

“Kejutan di akhir? Entahlah. Kau tahu ‘kan perusahaan sering melakukan hal-hal yang… aneh.”

“Kupikir bukan itu alasannya,” Baekhyun berbicara dengan amat yakin. “Sehun, mungkin Jongin pernah berbicara sesuatu. Kalian cukup dekat, bukan?”

“Kami dekat bukan dalam hal seperti itu. Kupikir Jongin hanya berbicara pada Kyungsoo.”

“Nah!” Chanyeol berkata dengan antusiasme tinggi, jari telunjuknya mengarah ke udara. “Mengapa tidak kita tanyakan pada Kyungsoo saja?”

Baekhyun meraih bantal dan mengetukkannya ke kepala Chanyeol. Teman sekamarnya ini pasti mengalami defisiensi nutrisi, sehingga kinerja otaknya menurun. “Sejak kapan kau berubah jadi idiot begini?”

Sehun tertawa. “Sebenarnya Jongin juga pernah mengatakan bahwa ia juga sedikit iri dengan Kyungsoo.” Ia menggaruk sisi belakang lehernya, terlihat rikuh. “Tapi kupikir itu tidak membantu. Benar, kan?”

Satu, dua, tiga. Dalam tiga detik, wajah Baekhyun berubah cerah dan matanya membulat seperti milik Kyungsoo. “Kapan? Kapan Jongin mengatakannya?”

Dahi Sehun mengernyit ketika ia berusaha mengingat. “Aku tidak bisa mengingatnya, itu sudah terlalu lama. Ada apa?”

Baekhyun mengabaikan kalimat terakhir milik Sehun, ia justru kembali bertanya dengan bara api di kedua matanya, “Bagian Jongin iri pada Jongdae, kau bisa mengingat waktunya?”

“Kalau yang itu belum lama. Dua atau, paling lama, tiga minggu lalu.” Sehun merapatkan dirinya pada Baekhyun ketika kalimatnya direspon oleh Baekhyun dengan petikan jari penuh percaya diri. “Baekhyun, ada apa? Jawab pertanyaanku atau aku tidak akan mau menjawab pertanyaanmu lagi,” ancamnya.

“Tenang saja, aku tidak akan bertanya lagi.” Baekhyun mengembangkan senyum bangga, kedua tangannya terlipat erat di depan dada. “Justru seharusnya kalian yang bertanya padaku!”

Chanyeol dan Sehun bertukar pandang, lalu berkata hampir bersamaan, “Kau—”

“Tepat sekali! Aku sudah tahu alasannya!”

“Alasan apa?”

Satu, dua. Ketiga lelaki itu menoleh ke arah yang sama dan seketika masing-masing dari ketiganya kesulitan menemukan suara.

Jongin berkedip heran, mencoba memahami situasi tetapi gagal. Mengapa ketiga temannya menatapnya seolah ia adalah hantu?

“Hei,” Jongin berkata seraya mengibaskan kedua tangannya sejajar dengan wajah tiga lelaki di hadapannya. “Ada apa, sih? Kenapa menatapku seperti itu?”

Adalah Chanyeol yang mencoba mengalihkan suasana. “Tidak apa-apa,” ia tertawa sebelum melanjutkan, “Sejak kapan kau disana? Aku tidak mendengar ketika kau masuk.”

“Baru saja. Kalian sedang membicarakan apa, sih? Kelihatannya seru sekali.”

Membicarakanmu, Bodoh.

“Ngomong-ngomong, apa kalian lihat Kyungsoo? Anak itu belum kembali, padahal latihan vokal sudah selesai sejak 30 menit yang lalu.” Jongin berbicara kembali, tampak tidak peduli dengan kalimat miliknya sebelum ini. Bergosip adalah pekerjaan perempuan, Jongin punya pemikiran demikian.

“Hei, Baekhyun,” Jongin menatap lelaki yang berusia dua tahun lebih muda daripada dirinya. “Bukankah kalian latihan bersama hari ini?”

“Aku langsung pergi ketika latihan usai,” Baekhyun mengajukan argumen. “Setelah itu aku kesini dan tidak melihatnya lagi sejak saat itu.”

Jongin mengangguk-angguk sambil bergumam, mengira-ngira dimana teman sekamarnya itu berada.

“Coba kautanya pada Joonmyeon hyung, dia ada di ruang televisi,” usul Sehun.

“Sudah kutanya dan Joonmyeon hyung juga tidak tahu.” Jongin melangkah menuju pintu.

“Jongin!” Baekhyun memanggil  dengan nada setengah berteriak tepat sebelum Jongin menutup pintu dan meninggalkan ruangan. Ada senyum main-main di wajahnya ketika ia kemudian berkata, “Tidakkah menurutmu akan lebih mudah untuk memasukkan Soojung dalam kelas menari alih-alih kau mengambil kelas vokal pada Park songsaengnim?”

Satu.

Dua.

Tiga.

Pada detik keempat, Jongin menutup pintu setelah menggumamkan, “Aku tidak mengerti maksudmu.”

Tapi ketiga lelaki yang tersisa di ruangan itu telah melihatnya, bahwa mata Jongin melebar panik sesaat setelah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya. Mereka juga mendengar nada getas pada kalimat milik Jongin. Dan ketika ketiganya telah larut dalam tawa, mereka masih mampu mendengar Jongin berteriak seperti orang gila.

“DO KYUNGSOO, KAU AKAN MATI!”

____________________________________________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: