Chances and Choices

August 27, 2014

large

 

Baekhyun (EXO)/Jieun (IU) | oneshoot | G | romance, drama, fluff

 

Ini bukan cerita mengenai cinta pada pandangan pertama.

 

Kali pertama Baekhyun melihat gadis itu adalah pada masa pendaftaran, beberapa waktu lalu. Saat itu Baekhyun sedang mengantre untuk menyerahkan dan mengurus kelengkapan berkas formulir ketika ia mendengar suara gaduh dari arah belakang.

“Seorang gadis pendaftar pingsan.”

Itu satu-satunya informasi yang Baekhyun dapatkan dari kerumunan di belakangnya. Atas nama memuaskan rasa penasaran, Baekhyun berjinjit sedikit demi mendapatkan pemandangan mengenai situasi yang sedang terjadi (yeah, sekarang kau mengetahui sebuah fakta bahwa Baekhyun bukan seorang yang memiliki tubuh cukup tinggi).

Setelah mengerahkan segala upaya untuk berjinjit dan mengangkat kepala setinggi yang mungkin diraihnya, akhirnya Baekhyun melihatnya; itu adalah seorang gadis yang manis, rambutnya lurus terurai hingga mencapai lengan bagian atas, dan wajahnya pucat seperti warna bagian belakang kertas formulir yang masih berada di antara jemari si gadis.

Sesungguhnya Baekhyun ingin membantu gadis itu, tetapi sudah ada cukup orang yang membantu sehingga akhirnya segala yang Baekhyun lakukan adalah kembali ke barisan tempatnya semula. Dan, oh, kebetulan sekali bahwa antrean telah mencapai giliran Baekhyun.

Baekhyun sempat menolehkan kepalanya sekilas ke belakang sebelum menjemput giliran miliknya. Gadis itu kini diangkut oleh beberapa mahasiswi menjauhi lokasi antre.

Semoga gadis itu akan baik-baik saja, Baekhyun melafalkan doa dalam hati.

Satu minggu setelah pendaftaran, dilaksanakan audisi.

Audisi yang dimaksud adalah berupa tes praktik sesuai dengan jalur yang diambil masing-masing peserta. Karena Baekhyun memilih vokal, maka yang harus dilakukannya ketika audisi nanti adalah menyanyi.

Baekhyun tidak ingat nominal nomor urut yang didapatkannya ketika audisi, ia hanya dikabari bahwa ia mendapat nomor urut di pertengahan dan baginya itu sudah cukup. Setidaknya ia tidak menjadi pembuka dan penutup, begitu pikir Baekhyun.

Seluruh peserta masing-masing dikelompokkan menjadi lima orang berdasarkan nomor urut. Kelima orang ini kemudian akan berbaris di sisi belakang ruang pertunjukan tempat dilaksanakannya audisi, menunggu hingga giliran masing-masing tiba.

Sepuluh menit setelah audisi berlangsung, Baekhyun mendengar namanya dipanggil. Ia mengangkat tangan untuk memberitahu eksistensinya kemudian bergerak menuju sisi tempat disebutkannya perintah. Bukan berita baik bagi Baekhyun, lelaki itu ada di urutan kelima sehingga artinya dia adalah yang terakhir di kelompok kecil ini.

Tidak apa-apa, Baekhyun memotivasi dirinya sendiri. Lelaki itu mulai bergerak-gerak pelan di tempatnya untuk menutupi rasa grogi. Sesekali Baekhyun berdeham untuk memastikan bahwa suaranya masih ada dan baik-baik saja.

“Gugup?”

Baekhyun sedikit tergagap ketika seorang gadis (tampaknya ia memiliki nomor urut tepat sebelum milik Baekhyun) menatapnya dan bertanya demikian padanya. Setelah menghabiskan beberapa detik untuk memahami situasi, Baekhyun akhirnya hanya tersenyum kikuk untuk menanggapi kata-kata gadis itu, membuat situasi terasa semakin canggung. Beruntunglah Baekhyun ketika sebuah suara menyebutkan satu nomor urut tepat sebelum nomor milik Baekhyun. Saved by the bell.

Gadis di hadapannya menghilang di balik tirai berwarna kelabu dan seketika Baekhyun sadar bahwa dirinya adalah satu-satunya yang tersisa dari kelompok kecil tadi. Baekhyun sedang melakukan kegiatan pengalihan rasa gugup bagian kedua ketika ia mendengarnya.

Baekhyun dulu selalu berpikir bahwa menyanyikan lagu milik penyanyi bersuara klasik dengan jenis suara miliknya (yang jauh dari kata klasik) adalah sebuah tindakan bunuh diri. Tapi saat ini ia mendengar Broken Vow milik Josh Groban dinyanyikan oleh suara lembut (dan imut) milik gadis dengan nomor urut tepat di atasnya, dan Baekhyun pikir ia harus mengoreksi pola pikirnya.

Baekhyun pikir ia telah jatuh cinta… pada pendengaran pertama.

Tidak perlu menunggu esok hari bagi Baekhyun untuk mencari tahu dan tidak ada kesulitan bagi Baekhyun ketika ia memulai investigasi. Gadis itu telah menjadi bahan perbincangan hangat dalam sekejap.

Menurutmu, apakah Baekhyun sebaiknya mundur saja? Maksudnya, bisa kaulihat bahwa Baekhyun punya begitu banyak kompetitor, sedangkan ia pikir ia bahkan tidak punya daya untuk berkompetisi.

“Jieun!”

Baekhyun menahan diri untuk tidak menolehkan kepalanya, tetapi tentu saja ia akan selalu gagal. Ia mengalah pada ego dan membiarkan kepalanya bergerak mengikuti arah suara.

Sejak mengetahui bahwa gadis itu memiliki nama Lee Jieun, sensor Baekhyun selalu bekerja dengan amat cepat ketika ia mendengar nama Jieun disebutkan di udara. Padahal, coba tebak ada berapa banyak orang yang memiliki nama Jieun di seluruh penjuru Korea Selatan? Mungkin sepuluh, atau dua puluh, atau nominalnya terlalu berlebih untuk disebutkan.

“Hayoung!” gadis yang dipanggil dengan sebutan Jieun membalikkan badannya. Bibirnya membentuk sudut sementara matanya membentuk lengkungan bentuk sabit.

Sungguh aneh bagaimana sebuah suara bisa mengubah frekuensi denyut jantung Baekhyun dalam sekejap mata. Padahal suara tadi tidak ditujukan pada Baekhyun dan nama yang disebutkan gadis itu juga bukan miliknya.

Kemudian Baekhyun mengamati peristiwa selanjutnya tanpa suara; gadis yang disebut bernama Hayoung tadi menghampiri Jieun dengan setengah berlari, mereka berbincang selama beberapa waktu amat singkat yang diakhiri dengan selembar kertas yang diterima Jieun dari Hayoung, dan keduanya berpisah.

Kalau saja Baekhyun adalah seorang pemberani, ia pasti sudah menghampiri Jieun dan mengajaknya berbicara. Mereka sama-sama mendaftar pada kelompok musik universitas, bahkan mengambil jalur yang serupa, sehingga artinya cukup jelas bahwa keduanya punya minat yang sama. Jika ditarik sebuah kausalitas lebih lanjut, bukan hal sulit bagi Baekhyun untuk memulai percakapan dengan gadis itu.

Kalau saja Baekhyun adalah seorang pemberani…

Yah, kalau saja.

Hari ini adalah hari pertama dilaksanakan latihan.

Jadi, kemarin adalah hari pengumuman hasil pendaftaran dan audisi peserta. Baekhyun tidak perlu bertanya apakah Jieun diterima disana, adalah dirinya sendiri yang ia khawatirkan. Karena, kau tahu ‘kan, Baekhyun mendapat satu nomor urut tepat setelah gadis bernama Jieun itu, jadi kau pasti bisa menduga bagaimana kondisi kejiwaan Baekhyun saat audisi lalu. Tapi ternyata nasib baik masih bersedia berada di sisi Baekhyun, karena menurut kertas berukuran 20×15 cm yang kemarin ia terima, dirinya diterima menjadi anggota kelompok.

Dan hari ini, biar kuulangi sekali lagi, adalah hari pertama latihan.

Setelah sesi perkenalan yang terasa menyenangkan dan tidak kaku, para anggota baru masing-masing diminta menunjukkan kemampuannya masing-masing. Diam-diam, Baekhyun bersyukur pada Tuhan bahwa ia menerima kata diterima dari kelompok ini, karena itu artinya ia punya kesempatan mendengarkan suara Jieun tiap minggu secara cuma-cuma.

Kali ini Jieun menyanyikan bagian refrain dari lagu A Goose’s Dream, sebuah lagu lama yang cukup popular di Korea. Dan apakah kau masih perlu kalimat deskriptif untuk menggambarkan apa yang Baekhyun dengar?

Berselang lima kepala dari Jieun, giliran Baekhyun tiba. Ia menyanyikan Raindrops Keep Falling On My Head milik B.J Thomas. Lagu itu adalah salah satu favorit sepanjang masa bagi Baekhyun.

Baekhyun punya kebiasaan memejamkan mata ketika ia bernyanyi. Jadi ketika lagu usai dan Baekhyun kembali membuka kedua matanya, hampir saja jantung Baekhyun melepaskan diri dari tempatnya ketika ia menemukan sepasang mata milik Jieun menatap tepat ke arah matanya.

“Kau menyukai Jieun?”

Baekhyun menatap Jongdae dan Kyungsoo bergantian. Pertanyaan tadi diajukan oleh Jongdae, tapi Baekhyun punya intuisi kuat bahwa Kyungsoo punya keterlibatan di dalamnya.

“Kau bicara apa, sih?” Baekhyun mengelak, mencoba mengendalikan situasi.

“Ya, ya, teruslah mengelak kalau kau ingin melihat Jieun bersama lelaki lain.”

Baekhyun memiringkan kepala dan menatap kedua temannya. Ia berharap suaranya terdengar wajar ketika mengatakan, “Maksudnya?”

“Rumor mengatakan bahwa Jieun sedang didekati oleh Park Chanyeol.”

Park Chanyeol adalah seorang siswa lelaki dari fakultas tepat di sebelah fakultas milik Baekhyun. Ia juga adalah salah satu siswa pendaftar yang diterima di kelompok musik, hanya saja ia mengambil jalur yang berbeda dengan dirinya dan Jieun; ia dan Jieun mengambil vokal, sedangkan keahlian Chanyeol ada pada instrumentasi, yakni gitar.

Awalnya Baekhyun menyukai keadaan ini karena ia memiliki satu poin lebih tinggi dibanding Chanyeol, tetapi pada pertemuan ketiga segalanya berubah.

Saat itu semua anggota diminta untuk melakukan pertukaran; para vokalis diharuskan memainkan instrumen, sedangkan pemain instrumen diharuskan menyanyi. Giliran Baekhyun tiba dan ia mendapat pasangan seorang gadis bernama Juhyun yang memiliki keahlian pada piano. Ini bukan hal sulit bagi Baekhyun, karena piano adalah juga salah satu kegemarannya. Ia dan Juhyun memainkan peran dengan baik.

Kemudian giliran tiba pada Jieun. Gadis itu tersipu malu ketika diberitahu bahwa ia berpasangan dengan Chanyeol, sedangkan Chanyeol girang luar biasa mendengarnya. Chanyeol adalah tipikal yang amat terbuka, sehingga tidak mengherankan jika seisi bumi akan mengetahui ketika ia menyukai seseorang.

Mereka berdua—Jieun dan Chanyeol—menetapkan pilihan pada Everybody’s Changing milik Keane. Lagu dinyanyikan dan dimainkan selama satu menit dua puluh detik, dan selama itu pula keadaan menjadi sepi. Sesungguhnya bukan suara Chanyeol yang membisukan suasana, tetapi fakta bahwa Jieun memainkan gitar dengan sempurna sekaligus sedikit membantu Chanyeol dari sisi vokal.

Dari sinilah kemudian diketahui bahwa Jieun juga punya talenta dalam memainkan gitar. Dan Baekhyun membenci fakta itu… bahwa Jieun punya satu benang penghubung dengan Chanyeol.

Baekhyun benci mengakui bahwa Chanyeol lebih tinggi darinya, lebih tampan darinya, lebih percaya diri dibandingkan dirinya, dan terlihat serasi ketika berada di sisi Jieun.

Baekhyun benci mengakui bahwa ia cemburu pada Chanyeol.

Pada latihan berikutnya, yaitu tujuh hari kemudian, Baekhyun tidak dapat menghentikan dirinya untuk tidak berpikir buruk ketika ia tidak bisa menemukan Jieun maupun Chanyeol di tempat latihan

“Teman kita, Jieun, hari ini tidak bisa hadir karena sedang sakit.”

Itu adalah perkataan salah seorang senior, tetapi tetap tidak bisa menjernihkan kepala Baekhyun. Apalagi kemudian ia mendengar bisik-bisik di sekitarnya yang mengatakan bahwa Chanyeol tidak hadir karena lelaki itu menemani Jieun yang sedang sakit.

Ketika break time tiba, Jongdae dan Kyungsoo mengepung Baekhyun di kafetaria.

“Apakah kau tahu rumor yang beredar mengenai penyakit Jieun?” Kyungsoo membuka percakapan.

Baekhyun menggeleng.

Kyungsoo menoleh pada Jongdae dan menggerakkan sedikit kepalanya, seperti memberi instruksi agar Jongdae mengambil alih situasi.

“Begini,” Jongdae melibas batas di antara kepalanya dan dua temannya, membuat intensitas di udara mengalami peningkatan. “Aku dengar bahwa beberapa senior mengatakan bahwa penyakit Jieun adalah cukup serius.”

Satu alis Baekhyun terangkat sangsi, “Misalnya?”

“Tidak tahu,” Jongdae mengangkat bahu. “Tapi itu bukan poin pentingnya, yang utama adalah bagaimana jika kau tidak punya banyak waktu dan kesempatan tersisa?”

Baekhyun punya anggapan bahwa tidak ada yang dinamakan kebetulan dalam hidup. Kebetulan adalah omong kosong besar. Hidup adalah seperti seperangkat kartu remi yang ada dalam genggaman Tuhan. Kemudian Tuhan membagikan beberapa lembar kartu padamu dan menyimpan sisanya. Tiga buah kartu yang diberikan padamu adalah berasal dari pilihan Tuhan, bukan merupakan ambilan acak dengan rentang probabilitas peluang antara 0,1 hingga 0,9. Kartu yang selanjutnya akan Tuhan berikan juga adalah berdasarkan pilihan-pilihan pasti, yang pada mata manusia akan bertransformasi menjadi deretan kesempatan dalam hidup

Maka bagaimana kau menyikapi kesempatan itu, semuanya ada pada kedua tanganmu; ambil atau abaikan, tolak atau terima, segalanya ada pada kendali yang kaumiliki.

Jadi, kemarin malam, usai siangnya ia mendengar perkataan Jongdae mengenai penyakit Jieun, tidur Baekhyun menjadi terganggu. Ia berpikir, berpikir, dan berpikir. Di tengah kegiatannya berpikir, secara tiba-tiba Baekhyun mengingat kali pertama ia melihat Jieun… bukankah saat itu Jieun sedang pingsan? Ya Tuhan, bagaimana kalau perkataan Jongdae benar adanya? Bagaimana jika ia tidak punya banyak kesempatan?

Sebagai hasil dari pemikiran panjang Baekhyun kemarin malam itulah kini Baekhyun berada disini.

Baekhyun menyentuh gagang pintu dengan ragu-ragu, kemudian melepaskannya kembali. Ia telah mengulangi siklus tersebut selama tiga kali ketika akhirnya pintu benar-benar terbuka.

“Permisi,” Baekhyun berkata cukup keras.

“Ya, siapa?” Itu suara milik Jieun, Baekhyun bisa mengenalinya dengan jelas.

“Oh.”

“Oh.”

Baekhyun dan Jieun berujar bersamaan kita mata masing-masing dari keduanya saling mengunci milik satu sama lain.

“Uh, tunggu sebentar, katamu kau sudah akan pulang?” Baekhyun berkata tidak percaya, matanya menyisir seisi kamar rawat yang sudah nyaris bersih dari barang-barang milik Jieun.

“Ya.” Jieun mengangguk. “Apakah itu terdengar buruk bagimu?”

“Oh, bukan. Sama sekali bukan begitu,” Baekhyun berkata kikuk, tampak bingung memilah dan mengolah kata. “Maksudku, itu berarti penyakitmu tidak cukup serius, ‘kan?”

“Apakah kau berharap bahwa penyakitku adalah cukup serius?”

Baekhyun mengibaskan tangannya di depan dada kuat-kuat. Situasi ini tidak menguntungkan lelaki itu sama sekali. “Sama sekali bukan begitu, sungguh.”

“Lalu?”

Tuk, tuk,tuk, Baekhyun mengetukkan jemari pada meja kayu. “Aku… mendapatkan informasi dari sesorang bahwa kau memiliki penyakit cukup serius.”

“Oh!” seru Jieun. “Apakah Kyungsoo atau Jongdae yang mengatakannya?”

Mata Baekhyun melebar. Bagaimana Jieun bisa tahu?

“Ya Tuhan!” Jieun berseru keras sebelum tertawa dengan nada paling rasional yang bisa dilakukannya. “Mereka benar-benar gila!”

“Uh, halo?” Baekhyun menggerakkan tangannya di hadapan wajah Jieun. “Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?”

Tawa Jieun berangsur-angsur berhenti hingga akhirnya gadis itu bercerita bahwa kemarin Jongdae meneleponnya dan bertanya mengenai kondisinya. Jieun menjawab dengan serta-merta bahwa kakinya hanya terkilir dan segalanya sudah baik-baik saja, tapi kemudian Jongdae meminta izin padanya untuk menggunakan nama dan kondisinya dengan sedikit modifikasi. Ketika ditanya untuk apa, Jongdae mengatakan bahwa Jieun pasti akan menyukai hasilnya dan percaya saja padanya.

“Jadi kau berakhir dengan menyetujuinya?”

“Aku tidak. Apakah menurutmu mereka perlu persetujuan untuk melakukannya?”

Tidak. Baekhyun tahu jawabannya.

“Chanyeol juga tidak hadir kemarin, ia pasti menemanimu, ‘kan?” Baekhyun menyumpah dalam hati setelah mengatakannya. Ini sama sekali di luar konteks perbincangan dan ini juga bukan bagian dari urusannya.

Dan ini membuatnya terdengar seperti cemburu.

Padahal ia memang sedang cemburu.

Yeah, tapi Chanyeol hanya berada di waktu dan keadaan yang tepat secara tidak sengaja. Kami berpapasan di lobi dan ia menawarkan diri untuk menemaniku sementara orangtuaku belum tiba. Dan kupikir tidak ada yang salah mengenai itu.”

Baekhyun diam sejenak sebelum berkata, “Maaf.”

“Kenapa memnita maaf? Aku tidak melihat kau melakukan sebuah kesalahan.” Jieun tertawa ringan. Ia memperbaiki posisi duduknya di tepi ranjang rawat sebelum berkata, “Lagipula, kupikir Jongdae benar.”

“Apa?”

“Yeah, kupikir…” Suara Jieun melemah karena rikuh dan kepalanya bersembunyi di antara ruah rambutnya yang terurai masai ketika ia berkata, “…aku menyukai hasilnya—maksudku, apa yang Jongdae lakukan.”

.

.

.

Aku menyukai bahwa kau ada di sini.

 

 

-fin

_________________________________________________________________________________________________

a/n: Had been posted in another blog back then in May. So, practically it was written before that one famous BaekYeon scandal. Btw, I still ship Baek with Jieun lol.

Advertisements

10 Responses to “Chances and Choices”

  1. Reyna93 said

    Wesss..bner bgt thu thor.wlau ada scandal baekyeon.gak slah klu kita tetap ngeshipp baekU.bagus ff-a thor.so sweet.

  2. Inten SM said

    hai hai!! aq reader baru, salam kenal! ^^
    suka bnget ama critax, ama jongdae jg, ada2 aja dya tngkahnxa ><
    o.ya. aq jg baeku shipper, dr dulu ampe skrang ^^
    untk ff slanjtx hwaiting!! ^^

    • hana said

      hello hello! hahaha tbh I dont have a very strict in this kind of shipping things hehehe but baek/iu seems so legit so i love them. thankyou for the comment! you too, hwaiting! :)

  3. yosephine said

    … lalu, pukul dua pagi, jieun melihat baekhyun di dalam mobil dengan senior mereka. hah loh……

  4. AlifiaNuurma said

    Hello! I am a new reader.
    Its a very nice story. I love the ending. :)
    Keep writing beautiful story :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: