Lost and Found

December 16, 2014

tumblr_mdmzsp4cQE1qiavizo1_500

Tiffany (SNSD)/Nichkhun (2PM) | AU | oneshot | G | romance, drama, fluff

Terkadang, seseorang justru bisa menjadi amat terbuka ketika ia berbicara pada orang asing.

Tiffany tidak mengerti mengapa ia seringkali sial sekali.

Hari ini seharusnya menjadi amat menyenangkan; syuting telah usai dini hari tadi dan seperti kilat di siang yang terik, secara tiba-tiba produsernya yang amat galak dan berkepala nyaris botak itu mengundur waktu kepulangan kru sehingga secara tak langsung memberikan waktu ekstra selama dua puluh jam bagi para kru untuk bersenang-senang disini. Tiffany sempat tidak memercayai pendengarannya sendiri ketika itu, tapi kemudian ia menyadari bahwa dua puluh jam bukan waktu yang sesungguhnya amat lama. Jadi, dengan amat cekatan dan antusias, ia bergegas menyusun rencana. Tiffany bahkan  sudah menulis sebuah memo di ponselnya yang berisikan daftar tempat yang akan ia kunjungi, lengkap dengan penanda tempat-tempat tersebut dan akomodasi untuk mencapainya di aplikasi maps yang ada di ponselnya.

Tapi kemudian segalanya menjadi sia-sia sekarang.

Jadi, satu jam yang lalu, Tiffany sedang berada di salah satu toilet di Stasiun Kereta Api Renfe Córdoba ketika ponselnya berdering nyaring. Tiffany sempat membaca nama yang muncul di ponselnya kala itu.

Yoona.

Tiffany menyapu layar ponsel sebelum berkata, “Halo?”

“Tiff! Sudah dengar pengumuman terbaru?”

“Apa? Ada apa?” Diam-diam Tiffany menahan napas.

“Sepertinya belum, ya? Begini, karena kuota di penerbangan pukul 11 malam hanya tersisa empat belas, jadi diputuskan bahwa sebelas sisanya akan dialihkan ke penerbangan pukul empat sore.”

Yoona berhenti berbicara dan Tiffany punya sebuah firasat buruk bahwa ia tidak akan menyukai apa yang akan Yoona katakana kemudian.

“Dan setelah dilakukan pengundian, kau adalah salah satu yang mendapat penerbangan pukul empat.”

Benar, ‘kan?

Tiffany hampir saja berteriak, tapi kemudian menyadari bahwa ia masih di toilet dan ada tiga penduduk lokal di sekitarnya. Maka yang Tiffany akhirnya lakukan hanya menghela napas cukup keras sebelum dengan lemah mengatakan, “Biar kutebak, kau salah satu yang mendapat penerbangan pukul sebelas?”

“Uh, ya,” nada bicara Yoona ikut melemah. “Tiff, kau masih disana? Maafkan aku.”

“Oh, ya, tidak apa-apa. Sudah ya, Yoon. Ini sudah pukul”—Tiffany melirik Swatch miliknya—“sepuluh. Bye.

Klik.

Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, Tiffany buru-buru keluar dari toilet dan berjalan dengan tergesa. Sebenarnya kini mood-nya sudah hancur, tapi—Demi Tuhan—ini Spanyol! Dan bagaimana mungkin nasib buruk tetap mengikutinya bahkan setelah dirinya pergi melintasi benua?

Kalau kau berpikir bahwa Tiffany kekanakan atau berlebihan atau bahkan marah pada Yoona, sesungguhnya ia sama sekali tidak. Tiffany tidak marah pada Yoona, sungguh. Ia hanya sedikit iri dan tidak mengerti mengapa Yoona punya tingkat keberuntungan yang amat tinggi (atau mungkin Tiffany saja yang terlalu sial). Dulu sekali, Tiffany hampir tidak mendapatkan pekerjaannya saat ini karena ia datang terlambat di hari wawancara. Saat itu ia dan Yoona sudah mengatur janji pada pukul 8 pagi karena wawancara dimulai pukul 8:30. Saat itu, Tiffany bahkan sudah mencapai selasar ketika Yoona menghubunginya dan berkata bahwa gadis itu baru bangun tidur, tapi coba tebak apa yang terjadi kemudian? Taksi yang ditumpangi Tiffany mengalami masalah teknis sehingga ia tiba di gedung perusahaan tepat ketika Yoona baru saja keluar dari ruang wawancara. Kali lain, Tiffany jatuh sakit ketika ia akan melakukan presentasi. Sebagai gantinya, Yoona mengambil peran sebagai presentator dan presentasinya saat itu sukses besar hingga hasilnya saat ini posisi Yoona di perusahaan adalah satu tingkat di atas Tiffany.

Dan coba lihat apa yang baru saja terjadi beberapa saat lalu.

Tiffany mengembuskan napas amat keras sebelum melambatkan langkahnya sedikit dan menenangkan dirinya sendiri.

Tarik napas, keluarkan…

Tiffany telah mengulangi kegiatan itu tepat selama tiga kali ketika ia mendapati dirinya sudah berada di dekat pintu keluar stasiun. Gadis itu baru saja akan mengambil langkah pertama menuju ke satu kursi yang berderet rapi di sisi kirinya ketika ia menyadari sesuatu.

Dimana tas miliknya?

Excuse me, Miss, did you see a hand bag right here? Yeah, I mean in this toilet. It’s pink and have a stripes on it. You didn’t see it? Oh, okay. It’s okay, Miss. Thank you and sorry for taking your time.”

Tiffany menghela napas keras-keras. Ia sudah tidak peduli lagi dengan situasi. Itu tadi adalah orang kelima yang ia tanya dan jawaban dari orang tadi tidak berbeda dari empat sebelumnya; nihil.

Penerbangannya dimajukan enam jam dari seharusnya dan kini tasnya hilang. Tiffany benar-benar tidak mengerti ada apa dengan hari ini.

Merasa tidak punya hal lain untuk dilakukan, Tiffany melangkah keluar toilet dengan malas. Ini masalah besar, benar-benar masalah besar. Dompetnya ada di dalam tas, dan semua uang serta surat-surat penting ada di dalam dompet. Dan ketika Tiffany pikir keadaan sudah amat buruk, ternyata ini masih bisa lebih buruk lagi.

Paspor gadis itu juga berada di dalam tas!

What time was it when you left the toilet?”

“Uhm, I’m not really sure. It’s about twenty minutes ago or so.”

“There’s no exact time?”

“Oh! Wait a minute,” Tiffany meraih ponsel miliknya dari saku mantel—satu-satunya benda berharga yang tersisa padanya untuk saat ini. “It was 10:12.”

Petugas keamanan stasiun menuliskan sesuatu dan meraih handy-talky, lalu mengucapkan kalimat dalam bahasa lokal sebelum beralih kembali pada Tiffany.

Well, Miss, your case has already announced and is being handled by the station’s security guards right now. All we can do right now is to wait. You can wait here, but if you don’t really like to wait then  you could just  give me a number and we will contact you right away when there is a progress of the case.”

Tiffany tampak berpikir beberapa saat sebelum menuliskan sesuatu di atas kertas milik si petugas keamanan. Ia mengucapkan terima kasih dan membungkuk sekilas sebelum berbalik badan dan pergi.

Sekarang apa?

Gerak refleks menolehkan kepala Tiffany ketika ia mendengar suara ketukan tepat dari arah belakangnya. “Kenapa?” gadis itu bertanya ketika menemukan bahwa pelakunya adalah seorang lelaki berjarak kurang dari satu meter darinya dan hanya berbatas selapis tipis kaca.

Lelaki itu mengatakan sesuatu dan Tiffany tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi gerakan bibirnya amat mudah dibaca. Bisa keluar sebentar?

Tiffany membuka pintu phone booth dan mengeluarkan dirinya dari sana. Kini ia berdiri berhadapan dengan lelaki tadi dan ia baru menyadari bahwa lelaki ini cukup tinggi.

Dan, uhm, tampan.

“Ada apa?” Tiffany mengulangi pertanyaannya.

Si lelaki tersenyum sekali lagi dan Tiffany kesal karena itu membuat si lelaki menjadi semakin tampan dalam pandangannya.

“Kau sudah lima menit berada di dalam sana dan tidak melakukan apapun,” lelaki tadi menjelaskan perlahan. “Boleh aku menggunakannya lebih dulu?”

“Oh, ya, boleh. Tentu saja boleh. Maaf.” Tiffany membungkuk setelah mengatakan itu. Kemudian ia cepat-cepat menyingkir dari hadapan si lelaki dan beralih menempati bangku di dekat phone booth. Gadis itu yakin sekali bahwa tadi wajahnya sempat memerah. Ia bahkan masih bisa merasakan rona panas di pipinya saat ini.

“Terima kasih.” Si lelaki tersenyum setelah mengatakan itu lalu melangkah masuk ke dalam phone booth.

Tiffany balas tersenyum, tapi lelaki tadi tidak sempat melihatnya. Ajaib sekali, bahkan dilihat dari sisi belakang seperti ini pun lelaki itu tetap menarik.

Lelaki tadi tidak menutup phone booth dengan rapat, jadi samar-samar Tiffany mendengar apa yang dikatakannya pada seseorang di ujung telepon. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen yang terdengar ganjil. Tiffany juga punya aksen ketika ia berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi aksen lelaki ini berlipat kali lebih kuat daripada miliknya.

Oh, tunggu sebentar. Tidakkah Tiffany melewatkan sesuatu disini?

Apakah tadi ia dan lelaki itu berbicara dalam bahasa Korea?

“Hei”—entah sejak kapan lelaki tadi kini berdiri di depan Tiffany—“aku sudah selesai. Kau bisa menggunakannya lagi sekarang.” Lelaki itu sekali lagi tersenyum.

Dan lelaki ini benar-benar berbicara dalam bahasa Korea!

“Hei,” Tiffany berkata canggung, jari tangannya saling bertautan karena gugup. “Apakah kau orang Korea?”

Lelaki itu berbalik, menatap Tiffany, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan ragu.

Yeah, aku berbicara denganmu.” Tiffany mengangguk kuat-kuat. Dan berharap.

“Uh, bagaimana menjelaskannya,” Lelaki itu bergumam sementara kedua kakinya bergerak mendekat. “Singkatnya, aku bukan orang Korea—“

“Tapi kau bisa berbahasa Korea,” potong Tiffany, khawatir apa yang selanjutnya akan dikatakan si lelaki adalah penolakan, “Tolong bantu aku. Kau bisa membantuku, ‘kan?”

“Jadi kau tersesat disini dan kehilangan tasmu?”

“Sebenarnya bukan tersesat,” Tiffany bergerak pelan dalam duduknya sebelum melanjutkan, “Aku sedang berencana untuk berjalan-jalan seharian ini, tapi kemudian aku dikabari bahwa penerbanganku dipercepat tujuh jam. Kemudian karena aku kesal dan terburu-buru meninggalkan toilet, aku meninggalkan tasku disana. Ketika aku sadar dan kembali ke toilet, tasnya sudah tidak ada.”

“Sudah melapor ke bagian keamanan?”

Tiffany mengangguk kuat-kuat. “Sudah, dan mereka bilang kasusnya sedang dalam proses. Mereka bilang akan menghubungiku kalau ada perkembangan mengenai kasusnya, tapi sekarang baterai ponselku habis, jadi percuma saja kalau pun mereka menghubungi.”

“Aku ingin menelepon temanku dan memberitahunya, tapi aku tidak hapal nomor ponsel temanku. Aku bahkan tidak hapal nomor telepon hotel tempaku menginap. Bahkan aku mencapai tempat ini dengan bantuan maps yang ada di ponselku. Semuanya benar-benar ada dalam ponselku dan kini baterai ponselku habis. Aku ingin meminta tolong pada petugas keamanan, tapi itu akan merepotkan. Sekarang sudah pukul hampir pukul sepuluh, penerbanganku enam jam lagi, dan aku tidak tahu harus melakukan apa.” Tiffany berbicara seperti kereta api dan nadanya kini sudah benar-benar frustasi.

Si lelaki menahan agar dirinya tidak tertawa. Tidak, ia bukan menertawakan situasi gadis ini, sungguh. Hanya saja, melihat wajah dan cara gadis ini berbicara… menurutnya itu amat menarik. “Begini, kaulihat gedung itu?” ia mengarahkan telunjuknya ke satu titik di sisi kiri dari tempat mereka kini berada. “Aku tinggal di sana, lantai tiga. Tapi sekarang semua temanku sedang pergi dan aku meninggalkan kunciku di dalam kamar. Mereka baru akan kembali paling cepat satu jam dari sekarang. Oh! Dan baterai ponselku juga habis. Kupikir kita memiliki banyak kesamaan saat ini, bukan?”  Lelaki itu tersenyum, berharap senyumnya bisa menulari gadis di sampingnya.

Tiffany memang tersenyum, tapi itu tidak benar-benar sebuah senyum.

“Tunggu sebentar,” Lelaki itu mengatakannya sebelum masuk kembali ke dalam phone booth. Tiga menit kemudian ia kembali dan mengatakan, “Aku sudah berbicara pada temanku, dan ia berjanji satu jam lagi sudah akan tiba disini. Setelah ia kembali, akan kupinjamkan baterai cadangan, jadi kau bisa menghubungi temanmu dan semoga saja akan ada panggilan terkait kehilangan tasmu. Sementara menunggu, kita punya satu jam untuk berkeliling. Bukankah kaubilang kau ingin berjalan-jalan hari ini?”

“Say, cheese!”

Tiffany secara refleks menolehkan kepalanya dan berpose ketika mendengar kalimat tersebut. Gadis itu tersenyum lebar dan satu tangannya terangkat di samping kepala, menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah.

Saat ini Tiffany berada di Jardín Botánico de Córdoba atau Cordoba Botanical Garden, jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris, dan Tiffany sama sekali tidak bisa menahan dirinya untuk terus-menerus berdecak kagum.

Bagaimana Tiffany bisa sampai kesini?  Itu adalah karena lelaki yang tengah memegang sebuah kamera di hadapannya saat ini. Tepat sekali, ini adalah lelaki yang tidak sengaja ditemuinya di phone booth beberapa waktu lalu. Lelaki ini sungguh baik dan Tiffany sungguh beruntung bertemu dengannya. Awalnya Tiffany ragu apakah ia harus menerima ajakan pria ini untuk menemaninya berkeliling sementara mereka menunggu waktu satu jam berlalu. Gadis itu punya dua alasan yang ia yakini amat logis; pertama, ia masih menganggap bahwa lelaki ini adalah orang asing (semua orang tahu bahwa sebaiknya tidak memercayai orang asing) dan kedua, Tiffany lebih sering mendapatkan nasib buruk ketimbang baik. Kepala gadis itu bahkan sudah dipenuhi pikiran-pikiran buruk, bagaimana kalau lelaki ini memiliki niat buruk terhadap dirinya? Bagaimana jika ia sedang dijebak oleh sindikat perdagangan perempuan seperti yang terjadi di film ‘Taken’? Bagaimana jika…?

Tapi kemudian belum sempat Tiffany menyelesaikan scenario mengerikan itu, lelaki di hadapannya itu menyela dan berkata, “Well, kau tahu, aku tidak memaksa. Kau pasti tidak percaya padaku atau bahkan mencurigaiku, benar ‘kan?” Ia berhenti berbicara dan menatap Tiffany dengan sorot jenaka, tetapi dalam konotasi positif. “Itu hal yang wajar, kok. Aku menawakan hanya karena kupikir satu jam akan menjadi sangat membosankan kalau hanya duduk menunggu.”

Sepatu Tiffany menimbulkan suara akibat bergesekan dengan tanah.

Srek, srek, srek.

Berpikir, berpikir, berpikir.

“Hmm,” Tiffany menggumam lalu mengangkat kepalanya ragu-ragu. “Selama kita tetap berada di luar ruangan, kupikir tidak apa-apa.”

“Jam berapa sekarang?”

Tiffany terlalu sibuk mengabadikan mengabadikan Mezquita–catedral de Córdoba yang ada di hadapannya melalui lensa kamera hingga kalimat itu diulang kemudian, tepat di dekat telinganya. Gerak refleks kemudian membuat gadis itu menoleh dan ia menemukan lelaki yang baru ia ketahui bernama Nichkhun (nama yang unik, tapi lelaki itu mengatakan padanya bahwa cukup memanggilnya dengan sebutan Nick) beberapa menit lalu tepat di hadapan wajahnya. Gadis itu bahkan harus menjauhkan wajahnya agar wajah mereka berdua tidak bertumbukan.

“Ya ampun! Mengagetkan saja,” gadis itu berseru sebelum menyapukan pandangannya ke pergelangan tangan kiri. Ia kemudian melanjutkan, “Sekarang 10:40, berarti kita masih punya waktu 20 menit. Kaubilang teman sekamarmu kembali pukul 11, ‘kan?”

Entah apa yang lucu, tapi Nick tertawa pelan sebelum berkata, “Yeah, sayangnya perjalanan dari sini menuju tempatku membutuhkan waktu 20 menit.”

“Oh?” Tiffany mengangkat kepalanya, mencari tahu apakah lelaki di hadapannya hanya sedang bermain-main atau bersungguh-sungguh.

Lelaki bernama Nick itu balas memandangi Tiffany dan diam, menunggu.

Ia bersungguh-sungguh.

Tiffany menyapukan telunjuk kiri di pelipisnya, sementara Nick masih menunggu.

“Apakah kita benar-benar harus pergi sekarang? Maksudku, kita baru saja sampai—belum sampai lima menit. Aku bahkan belum mengambil satu pun selca,” Gadis itu berkata (atau lebih tepatnya merajuk).

Tiffany bersungut-sungut dan Nick, sekali lagi, tertawa tanpa suara. Nick mengambil kamera dan Tiffany mengernyit ketika kamera berpindah dari tangannya. Dua detik kemudian Nick meraih tangan gadis itu agar posisi keduanya menjadi lebih dekat dan Tiffany masih saja mengernyit.

Say, cheese!”

Tiffany segera berhenti mengernyit dan tersenyum setelah mendengarnya, seolah yang dikatakan lelaki di sampingnya adalah sebuah mantra.

Keadaan ini sungguh canggung dan Tiffany tidak menyukainya.

Ketika perjalanan awal tadi, Tiffany sibuk dengan kameranya (sebenarnya itu kamera milik salah satu penghuni di gedung tempat tinggal Nick), jadi seluruh waktunya kala itu ia habiskan untuk mengabadikan sebanyak mungkin momen. Tapi beberapa saat lalu, hanya berselang dua menit dari pengambilan foto yang dilakukan Nick di depan Mezquita tadi, lampu indikator baterai kamera berkedip-kedip memunculkan warna merah dan menjadi mati total tiga menit setelahnya.

Jadi, disinilah Tiffany dan seorang lelaki asing yang baik hati bernama Nick sekarang, berjalan bersisian menuju tempat pertama kali mereka bertemu tanpa saling berbicara.

Memulai pembicaraan adalah peran yang biasanya dilakukan lelaki alih-alih perempuan, Tiffany punya pemikiran demikian, tapi apakah sebaiknya Tiffany memberikan dispensasi untuk situasi ini?

“Uhm.”

“Uhm.”

Tiffany tidak yakin apakah dirinya atau Nick yang lebih dulu berdeham. Ketika mereka saling menolehkan kepala sehingga bertumbukan pandang, gadis itu juga tidak yakin siapa di antara mereka berdua yang lebih dahulu melakukannya. Tiffany hanya tahu bahwa kemudian dirinyalah yang lebih dahulu melepas tawa karena tidak sanggup menahannya lebih lama.

Ada beberapa saat setelah itu yang hanya diisi oleh suara tertawa milik mereka berdua.

“Kau duluan,” ujar Nick usai ia menyelesaikan tawanya sendiri.

“Apa?”

“Bicaralah lebih dahulu. Bukankah tadi kau ingin mengatakan sesuatu?”

“Oh.” Mata Tiffany mengerjap-ngerjap. Memangnya ia tadi akan mengatakan apa? Tiffany berusaha mengingat sementara matanya terus mengerjap. Tapi hingga mata gadis itu menjadi perih karena terlalu banyak mengerjap, ia tetap tidak ingat.

“Ah, maaf, tapi aku tidak bisa mengingatnya,” kata Tiffany menyesal. “Sepertinya itu bukan hal yang penting.”

“Semoga saja.”  Nick tersenyum usai mengatakan itu.

“Nah, sekarang giliranmu.” Kini Tiffany yang bertanya, “Bukankah kau tadi juga ingin mengatakan sesuatu?”

Dulu, ketika Tiffany menempuh pendidikan di universitas, salah seorang temannya pernah mengatakan bahwa terkadang seseorang justru bisa menjadi amat terbuka ketika ia berbicara pada orang asing. Saat itu, temannya mengatakan bahwa ia bertemu dengan seorang lelaki (yang bahkan tidak ia ketahui namanya) pada perjalannya dari Busan menuju Seoul menggunakan bus. Dalam lima jam perjalanan yang ditempuhnya, temannya mengatakan bahwa ia dan lelaki asing yang duduk di sampingnya saling menceritakan kehidupan pribadi masing-masing dari keduanya seolah mereka sudah saling mengenal. Saat itu, Tiffany memukul lengan temannya dan berceramah selama lima menit tanpa jeda mengenai betapa bodoh apa yang temannya itu lakukan.

Dan sekarang, saat ini, coba tebak siapa yang harus menjilat liur sendiri?

Semuanya berawal ketika lelaki asing bernama Nick itu menanyakan apa yang membawa Tiffany kesini, ke Cordoba. Tiffany menjelaskan bahwa ia bekerja di sebuah rumah produksi di Korea Selatan sebagai seorang script writer, dan pada proyek film mereka kali ini, setting yang digunakan adalah adalah Cordoba.

“Apakah kau menyukai profesimu?”

Pertanyaan itu secara tiba-tiba diajukan oleh Nick dan cukup berhasil membuat Tiffany terperangah selama beberapa saat. Tapi alih-alih mengajukan protes pada Nick karena menanyakan hal yang tidak umum ketika mereka baru saja bertemu, gadis itu hanya menjawab, “Yeah, aku menyukainya. Walaupun bosku menyebalkan dan pekerjaan ini lebih melelahkan daripada yang mungkin orang-orang pikir, aku tetap menyukainya. Kupikir itu karena aku suka membuat cerita.”

Tiffany tidak terlalu yakin, tapi ia pikir ia mendengar Nick mengembuskan napas sebelum mengatakan, “Kau sungguh beruntung.”

“Beruntung?”

“Yeah,” Nick menciptakan kontak mata antara dirinya dan Tiffany sebelum melanjutkan, “Tidak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan daripada melakukan hal yang kau sukai.”

Tiffany mengalihkan pandangan dan memainkan jari-jemari miliknya dan menghitung hingga lima kemudian berkata dengan hati-hati, “Apakah kau tidak menyukai pekerjaanmu saat ini?”

Kali ini Tiffany benar-benar yakin bahwa Nick menghela napas. Ia bahkan dapat melihat ketika kedua sudut bibir Nick mengembang seolah ia sedang tersenyum. Sayangnya, Tiffany tahu bahwa itu bukan jenis senyum yang menyenangkan.

“Semua orang mengatakan bahwa aku beruntung. Kami—keluargaku—beruntung karena profesi kedua orangtuaku dokter dan aku dapat menyelesaikan pendidikan dokterku lebih cepat dibanding semua teman-temanku. Semua orang mengatakan bahwa aku jenius.”

Ada jeda cukup lama setelah itu. Sebenanrnya Tiffany bertanya-tanya dan ingin tahu, tapi ia tidak punya keberanian meski hanya untuk mengatakan, ‘lalu?’. Tiffany bahkan tidak berani melihat ekspresi lelaki yang ada di sampingnya ini walaupun ia sangat ingin melakukannya.

“Kau tahu kenapa aku mengerahkan semua kemampuanku hingga aku dapat cepat lulus?”

Tiffany akhirnya berani menatap Nick setelah ia yakin bahwa lelaki itu sedang menatapnya. Ia kemudian menggeleng dan bertanya, “Kenapa?”

“Aku ingin cepat lulus karena aku begitu muak dengan semuanya. Kupikir jika aku cepat lulus maka semua penderitaan ini akan berakhir. Tapi semuanya sepertinya tidak akan pernah berakhir. Ketika aku mengabarkan bahwa aku lulus, orangtuaku justru berkata agar aku tetap disini dan mengambil spesialis. Kalau bukan karena adikku datang kesini dan mengajariku untuk sedikit memberontak, mungkin saat ini aku sudah jadi gila.”

“Oh, kau memberontak?”

Nick mengangguk. “Aku menjadi berani karena adikku. Ia—adikku—berbeda. Meskipun perempuan, tapi ia adalah seorang yang lebih berani disbanding aku. Ia bahkan kabur dari rumah pada hari kelulusan high school dan berjanji tidak akan kembali sebelum Mom dan Dad berhenti memaksakan kehendaknya dan mengizinkan ia berangkat ke Juillard. Dan akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan.”

“Adikmu siswi Juillard?” Tiffany tidak bisa menahan diri dari antusiasme. “Whoa, adikmu sungguh keren!”

Nick tertawa dan mengangguk. “Ia mengikuti tes tanpa sepengetahuan orangtuaku dan berhasil lulus. Aku pikir ia seumuran denganmu. Ia orang yang menyenangkan, mungkin kalian bisa bertemu suatu hari nanti. Dan omong-omong”—Nick berhenti melangkah—“kita sudah sampai.”

“Jam berapa sekarang?”

“11.25.”

“Dan kereta baru akan datang 15 menit lagi?”

Tiffany mengangguk sementara Nick berdecak pelan.

“Hei, tidak apa-apa. Kupikir waktunya akan cukup.”

Nick tidak memberikan reaksi, jadi gadis itu berkata lagi, “Kau tahu apa yang paling penting?” Ini”—Tiffany mengacungkan tas bermotif garis-garis pink—“sudah ditemukan.” Ia tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Tapi kita seperti membuang-buang waktu satu jam karena menunggu temanku yang ternyata baru bias kembali pukul satu nanti.”

“Aku lebih suka menyebutnya jalan-jalan ditemani tour guide secara gratis.” Tiffany melirik lelaki di sampingnya lalu tertawa. “Jangan menyalahkan diri untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu.”

Ada waktu tiga detik setelah itu yang hanya diisi kontak mata antara mereka berdua. Pada detik keempat, Nick mengalihkan pandangannya sehingga kontak terputus.

“Kau punya pola pikir yang dewasa. Kau memandang hal-hal dalam hidup dari sisi terang, tidak seperti—“

“Whoa, tunggu sebentar.” Tiffany menyela tanpa aba-aba. “Itu hanya berlaku ketika aku membicarakan orang lain. Ketika objek pembicaraan berganti menjadi diriku sendiri… aku kehabisan kata-kata positif.”

Sepasang alis milik Nick bertautan dan sedikit naik ketika ia bertanya, “Maksudnya?”

Tiffany menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ini akan jadi penjelasan yang cukup panjang. “Kau harus tahu bahwa aku adalah orang yang sering sekali mengalami nasib sial. Kau dapat melihatnya sendiri, tadi aku meninggalkan tasku di toilet karena aku terburu-buru. Dan apakah kau tahu kenapa aku menjadi terburu-buru secara tiba-tiba? Itu karena tadi aku baru mendapatkan kabar bahwa secara tiba-tiba penerbanganku dipindahkan dari pukul sebelas malam menjadi pukul empat.” Gadis itu berhenti berbicara ketika napasnya hampir habis. “Dan jika aku menjabarkan semua kejadian, itu akan menjadi buku setebal diktat kuliahmu yang paling tebal.”

Tiffany yakin sekali bahwa tidak ada unsur lucu pada kalimat yang baru saja ia ucapkan, tapi kenapa Nick justru tertawa mendengarnya?

“Halo!” Tiffany melambaikan tangan di hadapan wajah Nick. “Apakah ada yang lucu? Apakah kau sedang menertawakanku?” Ada sedikit nada tidak menyenangkan pada kalimat itu.

“Oh, ya ampun. Bukan begitu, sama sekali bukan.” Wajah Nick berganti menjadi amat serius ketika ia berbicara. “Ekspresimu tadi sangat lucu ketika kau berbicara. Kau orang yang sangat ekspresif.”

Setelah tiga detik berlalu dan Tiffany hanya terus memandanginya tanpa berkata apa-apa, Nick kembali berbicara. “Hei, aku tidak bermaksud menertawakanmu, sungguh. Maaf kalau kau menjadi tersinggung. Mianhae.

Tiffany tertawa dan seketika situasi seperti menjadi berbalik bagi Nick.

“Hei.” Sepasang mata milik Nick memicing curiga. “Apakah kau sedang membalasku?”

Tawa Tiffany terdengar semakin keras hingga gadis itu hampir tergelincir dari tempat duduknya.”

“Lima menit lagi keretamu akan tiba.”

“Aku tahu.”

“Bukankah seharusnya kau mulai berdiri dan bersiap-siap?”

Tiffany mendesah pelan. “Rasanya aku masih ingin disini.” (Kupikir aku tidak ingin kita berpisah.)

“Aku tahu,” Nick mengangguk-angguk. “Kuharap kau akan kembali kesini suatu hari nanti.” (Kuharap kita akan bertemu lagi.)

Tiffany mengangguk-angguk dan tersenyum, lalu berkata, “Kalau suatu hari nanti kau mengunjungi Korea, kau harus memberitahuku. Aku akan menjadi tour guide tanpa meminta bayaran.” (Dan kita bisa berjalan-jalan bersama, lagi.)

Nick tersenyum dan menggumamkan kata setuju. Kemudian secara tiba-tiba lelaki itu pergi setelah berkata, “Tunggu sebentar, oke?”

Ketika kembali beberapa detik kemudian, Tiffany mengernyitkan dahi karena lelaki di hadapannya itu mengulurkan lembar kertas berwarna putih dan sebuah pulpen. “Ini… untuk apa?”

“Tuliskan alamat e-mail milikmu, jadi aku bisa mengirimimu foto yang ada di kamera tadi.” (Lalu kuharap kita akan bisa berbalas e-mail.)

“Oh.” Tiffany mengangguk sebelum mengambil kertas dan melakukan apa yang diminta dengan cekatan. Usai melakukannya, gadis itu merobek kertas menjadi dua bagian dan mengulurkannya kembali pada Nick. “Tulis milikmu juga. Hanya berjaga-jaga jika kau lupa, aku akan mengingatkan.” (Kuharap kau tidak melupakan aku.)

Nick meraih potongan kertas dan pulpen sambil tertawa. “Aku dapat melihat kau punya alasan tersembunyi.” (Semoga harapanku benar. Semoga kau juga ingin agar kita tetap berhubungan.)

“Apa?” (Lelaki ini tidak bisa membaca pikiran, ‘kan?)

“Kau pasti ingin menghina ingatanku karena aku lebih tua darimu. Benar, kan?” (Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.)

“Wah, pikiranmu benar-benar jelek sekali. Aku tidak bisa percaya ini! Apa kau menganggapku seburuk itu, ha?” (Ternyata ia hanya bermain-main. Syukurlah.)

Kemudian mereka tertawa bersamaan, entah apa yang mereka tertawakan. Baru saja mereka berharap bahwa pada saat seperti ini waktu bisa bergerak lebih lambat, tapi harapan mereka seolah dipatahkan ketika suara kereta terdengar dari kejauhan.

“Ah, keretanya tiba.” Tiffany berdiri dan bergerak mendekati sisi rel.

Nick ikut berdiri dan berjalan di sisi kiri Tiffany. Mereka baru berdiri selama satu detik ketika kereta melintas di hadapan keduanya, membawa udara yang bergerak cepat menerpa wajah mereka. Pintu terbuka di hadapan mereka dan dengan enggan Tiffany melangkahkan kakinya.

“Hati-hati.” Nick berteriak dan berharap semoga Tiffany masih dapat mendengar suaranya.

Tiffany mengangguk dan balas tersenyum sementara mulutnya bergerak membentuk ucapan terima kasih. Kemudian pintu tertutup dan gadis itu melambaikan tangannya.

Kereta sudah mulai bergerak ketika Tiffany melihat bibir Nick bergerak, mengucapkan sesuatu tanpa suara seperti yang tadi dilakukannya. Entah apakah Nick yang terlalu lambat atau kereta yang terlalu cepat bergerak, tapi Tiffany butuh waktu sedikit lebih lama untuk mengetahui apa yang Nick katakan tadi. Ketika gadis itu akhirnya mengerti, wajah Nick sudah tidak terlihat lagi.

Berhati-hatilah dan sampai jumpa.

Tiffany tidak dapat menahan dirinya agar tidak tersenyum.

Sampai jumpa, bukan selamat tinggal.

____________________________________________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: